Punya Gue Bukan Ya?
Gue punya phobia sama satu lagu. Cuma Ary Agung Wahono sama Ananta Wajendra Dba aja yang tau. Karena gue sendiri baru sadarnya pas udah gede, padahal ini lagu populer di jaman gue SMP. Gue tadinya cuma ngerasa gak suka aja ama ini lagu. Tapi gak sadar bahwa gak sukanya sampe ngefek ke perasaan gue.
Om Ananta tau juga gara-gara dikasi tau Ary, dan langsung ngerjain gue waktu itu. Waktu itu Ary lagi teleponan ama Om dia, tiba-tiba Ary bilang, “Nih Ketut mau ngomong sama kamu.”
Gue gak curiga dan langsung ambil teleponnya, “Kenapa Om?”
Eh dia langsung nyanyiin sepenggal lagu itu, dan di situ gue baru sadar betapa parahnya phobia gue ama lagu itu, karena yang tadinya lagi biasa aja gue langsung teriak kesel dan nangis sesenggukan ke kamar. Nangisnya lumayan lama lagi..
Sedangkan Ary dan Om Ananta ketawain gue puas banget. Kamfrettt!
Wkwkwkwk..
Buat yang udah beli dan baca buku gue yang Puzzle of Mindfulness, gue udah sempet cerita soal ini, tapi waktu itu baru sebatas gue akhirnya nyadar kenapa sih gue mual-mual parah dan sedih banget setiap denger lagu ini. Tapi emang belom sembuh.
Yang mau tau, silahkan order ya ke gue. Hahaha..
Intinya sih, lagu itu membuat gue merasa ada kelakuan gue yang kok mirip bokap, padahal gue justru gak setuju dan gak suka banget sama kelakuannya yang itu. Kontradiktif. Gak suka, tapi gue ngelakuin hal yang sama. Dan lagi, lagu itu membuat gue jadi merasa ternyata gue sama aja ama bokap.
Padahal, kalo diurai lagi, gue merasa udah berproses cukup banyak dari jaman dulu. Gue belajar banyak hal dan berusaha untuk bisa jadi diri yang lebih sehat secara mental, dan bisa membangun hubungan yang sehat juga sama Ary. Tapi nyatanya gue masih berasa diri gue yang gak banget itu masih nempel. Masih berasa suka ada suara dalem diri gue, “Ah ya elo kan emang begitu orangnya.”
Jadi, ya, phobia lagu itu masih terus berlanjut, walaupun, setelah udah sadar gue kenapa, kalo pas ada lagu itu, gue nangisnya bisa sambil ketawa. Karena separo diri gue yang udah sadar berasa itu konyol, sedangkan separo lagi diri gue masih bisa ngerasain nyeseknya. Walaupun gue udah gak hoek-hoek lagi, cuma ya masih sangat sensi. Karena baca liriknya aja masih berasa. Akhirnya ya paling nangis sambil ketawa tadi itu aja.
Skip skip skip, sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu, gue ikut webinarnya Coach Fena Wijaya New, dan di webinar itu Coach Fena ada singgung, bahwa kebanyakan orang itu cuma 2% dari diri aslinya yang tampak dan muncul. Sisa 98%nya ketutup sama tularan orang lain. Tularan belief, tularan rasa, dari orang-orang di sekeliling kita, terutama yang dekat dengan kita. Wow..
Nah, setelah tau soal ketularan rasa dan belief itu, gue lumayan banyak ngelepas rasa dan belief. Karena setelah gue track, “Ini rasanya siapa? Oh ini rasanya si ….” “Ini belief gue dapet dari mana? Oh, gue dapet belief ini dari ….” Dan ternyata emang buanyak rasa dan belief tularan punya orang lain yang nempel di gue.
Gak semua jelek, tentunya ya.. Pasti ada yang bagus juga. Dan karena udah sadar, kita jadi bisa milih. Kita bisa nentuin mana rasa dan belief yang layak dan mau kita simpan, mana yang gak layak simpan karena malah bikin kita rugi. Udah mah bukan punya kita, bikin rugi lagi.. Trus ngapain masih gue pegangin terus? Dikembalikan aja ke luar.
“Bukan punya gue.”
“Ini bukan gue.”
Dan, entah sejak berapa hari belakangan, kok gue tiba-tiba tanpa sadar menyenandungkan sebagian irama lagu yang gue phobiain tadi. Hahaha.. Sampe kaget sendiri. Gue cobain bisa hampir satu lagu gue senandungin melodinya dan feel fine aja tuh. Hihihi.. Jadi ketawa-ketawa sendiri. Bisa berasa biasa aja akhirnyaaa.. Belom sampe tahap nyanyiin liriknya siih, tapi ada pergeseran rasa yang signifikan dan membebaskan.
“Itu bukan gue.” Tiga kata sederhana ini yang akhirnya menyembuhkan phobia gue bertahun-tahun. Gue tiba-tiba menyadari bahwa rasa gak suka yang dipicu oleh lagu itu ternyata bukan rasa gue terhadap diri gue. Tapi tularan rasa orang lain.
Gue menyaring rasa gue yang sebenarnya gimana terhadap diri gue. Dan ternyata gue sebetulnya udah makin feel good sama diri gue. Beberapa tahun ini gue makin bersahabat dan berdamai dengan diri sendiri. Jadi, punya siapa itu rasa yang enek sama diri sendiri? Yang jelas bukan punya gue. Baiklah, kalau begitu gue kembalikan saja ke luar sana.
Setelah itu rasanya udah plong. Kalaupun masih berasa pengen nangis pas denger lagu itu, kayanya tinggal sedikit, karena melepas itu toh ada waktunya. Gak harus buru-buru dan gak maksa harus seketika hilang. Diterima dan jalanin aja, yang penting udah disadari, udah rela dan sadar melepas dari genggaman hati.
Mungkin banyak dari kita yang mengalami kegalauan akibat belief atau rasa tularan ini.
Lewat Human Design, gue juga jadi ngeh kenapa banyak orang, termasuk gue, galau dan kehilangan dirinya. Alienated soul, istilah yang gue dapet dari Guruji Gede Prama. Saat jiwa kita merasa terasing dari diri karena diri ini sudah berbelok terlalu jauh dari rancangan aslinya.
Satu sisi, sebagian diri kita mungkin sebetulnya tau apa yang kita inginkan, apa yang selaras dengan diri kita. Tapi di sisi lain, ada ketakutan, keraguan, dan keyakinan lain yang berbeda, bahkan berlawanan, sehingga gak selaras dengan keinginan kita tadi. Seringnya, sisi yg kedua ini yg kita dapet dari tularan orang lain. Dan kalau sisi yang kedua ini ternyata lebih dominan, ini yang bikin sisi diri yang awalnya sebetulnya tau dan yakin berubah jadi ragu. Dan akhirnya galaulah kita. Goyah, bingung, dan gak yakin.
Rancangan asli kita yang sebetulnya adalah masterpiece, malah tertutup dan banyak juga orang yang rancangan diri aslinya belum terbuka sampai akhir usianya.
Gue rasa, kesadaran akan belief tularan ini bisa sangat membantu kita untuk bebersih ruang rasa dan ruang belief kita di semua aspek kehidupan kita. Menjernihkan rancangan diri kita, memantapkan pilihan jalan yang ingin kita tempuh. Baik di area finansial, hubungan, kesehatan, mental, sosial, spiritual, apapun.
Begitu kita mulai bisa memisahkan rasa & belief tularan dengan rasa & belief milik kita sendiri, kita jadi merasa lebih aman, lebih yakin, dan tau di mana kita ingin berdiri. Kita jadi bisa membentuk diri kita sesuai yang kita inginkan secara sadar.
Pada dasarnya kita bisa ketularan karena kita belum punya cukup kesadaran untuk memisahkan rasa kita dengan rasa orang di luar. Jadi apapun yang datang, masuk dan tersimpan tanpa kita sadari.
Lompatan Hidup dimulai dari Lompatan Kesadaran, tagline Lompatan Hidup ini lagi-lagi kena untuk gue sendiri. Ketika kita semakin berkesadaran, kita semakin mengenal Diri Sejati yang ada di dalam, semakin merasa aman dengan Diri Sejati kita, sehingga kita jadi seperti punya filter.
Tidak semua rasa yang datang kita biarkan masuk, dan tidak semua rasa di dalam harus kita tularkan kepada orang lain. Karena apa yang selaras untuk kita, belum tentu selaras untuk diri orang lain.
Nah, yang ini banyak terjadi dari orangtua ke anak. Orangtua yang tipenya A misalnya, dia akan menularkan belief A, karena itu terasa baik untuk dirinya. Tapi ketika si anak ternyata adalah tipe B, belief A bisa jadi tidak selaras dan melemahkan si anak.
Tapi karena orangtua adalah otoritas pertama yang dikenal anak dalam hidupnya, masuklah belief A ke dalam dirinya. Sampai kapan? Sampai si anak bisa menyadari dan mengenali dirinya sendiri, dan kemudian membangun filternya sendiri.
Gara-gara ini gue juga jadi sadar, tahun-tahun selama anak gue ada, berapa banyak ya gue udah menularkan ke mereka? Selaraskah dengan diri mereka yang sejati?
Hmm, yah baiklah.. At least sekarang udah lebih gue sadari. Dan bersyukur masih ada kesempatan baru setiap hari buat gue untuk mendampingi mereka membangun filter mereka sendiri.
Bersih-bersih ke dalam, dan hati-hati melempar ke luar.
Di gerakan Berkelimpahan dengan Berkesadaran, topik-topik seperti ini menjadi pembahasan diskusi yang utama. Berjalan ke dalam kesadaran diri agar menemukan diri di dalam. Karena apapun yang kita cari di hidup ini, kesuksesan, kebahagiaan, kekayaan, kehangatan, kedamaian, semuanya ada di dalam diri.
Setiap dari kita sudah diberikan energi-energi yang mendukung rancangan diri kita. Kita hanya perlu menjadi selaras agar bisa mengaktifkan energi-energi itu dan memunculkan sinar sesuai rancangan diri kita.
Jadi, jangan buru-buru down kalo misalnya kita sudah menentukan apa yang Anda ingin lakukan dari hati, dan kemudian ada orang dekat Anda yang nyeletuk, “Itu kan susah..”
Ya, mungkin memang susah untuk mereka karena mereka tidak dirancang untuk melakukannya. Tapi kita, kita mungkin justru malah dirancang khusus untuk melakukan hal itu.
Aktifkan filter, dan pisahkan rasa susah itu. Apakah itu milik kita atau milik orang lain? Kalau milik kita, review kenapa dan urai problemnya. Tapi kalau ternyata milik orang lain, maka biarkan saja pada pemiliknya. Tidak perlu kita adopsi. Hehehe..
Pada akhirnya kitalah yang sebenarnya paling tau, apa yang perlu dan ingin kita lakukan untuk menjadi selaras di dalam. Yuk, menyelam lagi ke dalam diri.