Kok Bisa Yah Dia Begitu? Nyatanya Memang Bisa
Sudut pandang orang itu beda-beda dan menariknya, bisa saling berlawanan.
Yang sulit adalah memahami bahwa benar bagi kita mungkin salah bagi orang lain.
Dan juga sebaliknya.
Ketika kita merasa disakiti, belum tentu yang sana merasa menyakiti.
Sudut pandang mereka mungkin sama sekali tidak bisa kita mengerti.
“Lha.. wong jelas-jelas menyakiti, dari mana benernya?”
“Jelas-jelas merugikan, tapi kok malah tingkahnya seperti pahlawan?”
Capek hati memang mikirin orang yang kita anggap menyakiti tapi faktanya mereka gak merasa. 😁
Karena kita inginnya mereka merasa bersalah.
Yang artinya kita berharap mereka sependapat dengan kita.
Ini yang sebetulnya bikin tambah menderita.
Padahal, ya akan selalu ada orang yang gak sependapat, bahkan berseberangan dengan kita.
Level kefasihan kita untuk menerima dan memaafkan lagi dibawa naik ketika kita ketemu dengan orang2 seperti ini.
Karena kita perlu bisa memahami dan menerima sudut pandang mereka yang berseberangan dengan kita.
Memahami dan menerima bahwa kita dan mereka memang ternyata berbeda sudut pandang.
Menerima dan memaafkan bukan berarti kita lantas mengiyakan atau setuju dengan mereka.
Menerima bahwa mereka punya sudut pandang yang berbeda dan memaafkan pada dasarnya adalah untuk membebaskan diri kita dari perasaan yang mengeringkan hati kita.
Benci, dendam, kecewa, sedih, tidak terima, perasaan menjadi korban, marah, dan sebagainya.
Menahan dan menggenggam rasa-rasa itu akan lebih banyak menyakiti kita.
Apalagi di kasus yang tadi, ketika orang yang kita anggap menyakiti bahkan gak merasa kan? 😁
Jadi, membebaskan diri dari perasaan-perasaan tadi adalah bentuk mencintai diri kita.
Refleksi semacam ini selalu berlaku dua arah buat gue.
Ketika gue bisa memikirkan ini dari sisi gue, berarti perlu juga untuk bisa memikirkan dari sisi orang lain.
“Jangan-jangan ada orang yang gue lukai dengan hal-hal yang menurut gue baik-baik aja.”
Kalau gue gak peduli, berarti bisa jadi sama aja ya sama orang yang menyakiti gue tapi gak merasa tadi. Hehe..
Untuk saat ini gue baru bisa memahami peran kita sebagai tuan atas diri sendiri.
Ketika kita disakiti oleh orang lain, bahkan yang gak merasa, ambil pelajarannya, tanyakan apa yang perlu dan bisa gue pelajari dari kejadian ini yang bisa membuat diri gue lebih baik.
Terima dan maafkan (kalau sudah bisa) untuk meringankan dan membersihkan diri kita.
Ketika ada orang lain yang ternyata tersakiti oleh kita walaupun kita gak merasa dan gak bermaksud, alih-alih mempertahankan sudut pandang benar kita, memberikan sedikit pengertian dan kata maaf (kalau sudah bisa juga) akan banyak menyelamatkan hubungan dan menuntun ke win-win solution.
Gue bilang baru bisa memahami, tapi prakteknya juga masih ndut-ndutan.. 😁
Sakitnya masih terasa, walaupun udah mulai dilepas-lepas.
Gak terimanya masih ada, walaupun udah mulai juga untuk belajar memahami.
Gak habis pikir kok bisa begitu, nah ini yang susah. Hahaha..
Karena masih belum masyuk di logika, ya sudah tidak usah dipikir.
Melepas keharusan melogikakan.
Disadari aja masih ada rasa yang ganjel.
Sambil terus banyakin cinta kasih untuk diri sendiri.
Karena dengan semakin mengasihi diri sendiri kita akan semakin rela melepas perasaan-perasaan negatif tadi.
Lepasin, lepasin.. demi diri yang lebih bahagia, lebih damai, dan lebih penuh.
Minimal sudah netral saat bertemu atau memikirkan orang dan kejadian yang menyakitkan tadi.
Level selanjutnya, mengasihi orang yang menyakiti kita tadi.
Praktek cinta kasih yang dilakukan Yesus Kristus.
Ditampar pipi kanan, kasih juga pipi kiri.
Level Dewa..
Level gue masih sebatas melepaskan dan menetralkan keinginan untuk nampar balik. Hehe..
Terima, mengalir, senyum..
Mau senyumnya masih separuh asem, pahit, juga gak papa..
Sudah bisa senyum dari hati sudah bagus.
Lanjutin aja perjalanannya.
Yuk jalan bareng jadi Teman Seperjalanan.. 😊