Takut Dan Cinta Part-2
Cinta kasih akan melengkapi pengetahuan yang kita miliki. Karena tanpa cinta kasih, seorang guru setinggi apapun ilmunya, hanya akan menjadi hakim. Yang menilai segala sesuatu dari benar dan salah. Yang hanya senang menerima murid yang baik dan pintar, tapi tidak untuk murid yang bodoh dan nakal. Murid yang baik dan pintar mungkin akan bisa belajar darinya, tapi bukankah esensi seorang guru adalah mengajar yang tidak bisa sehingga menjadi bisa, dari yang tidak baik menjadi yang baik?
Di dalam diri setiap dari kita, juga ada sesosok guru, yang mendorong kita untuk terus belajar, terus menjadi lebih baik, lebih berhasil, lebih lengkap. Dulu aku sempat merasa, tanpa cinta kasih untuk diri sendiri, sosok guru dalam diri ini seringkali berperan jadi hakim. Pengetahuan yang aku dapat malah berbalik menyiksa karena aku jadi terus menilai diri, apakah aku sudah benar, apakah aku salah, kenapa aku melakukan kesalahan bodoh yang sama berulang-ulang, kenapa dulu aku mengambil keputusan itu, kenapa aku tidak berhasil-berhasil merubah diri jadi seperti yang seharusnya, dan berbagai penghakiman lain yang ingin cepat-cepat menyingkirkan segala sisi yang aku anggap jelek. Pengetahuan bertambah, tapi kenapa rasa bersalah dalam diri malah semakin besar.
Ternyata, semua karena cinta belum kupupuk sebanyak aku memupuk pengetahuan, sehingga cinta kasih belum ikut bertumbuh seiring pengetahuan. Tanpa cinta, diri ini malah semakin membenci yang jelek dan salah, dan hanya memihak pada yang baik, yang benar, yang seharusnya. Padahal, jelek dan salah adalah bagian dari keutuhan diriku yang juga membantu diriku untuk bertumbuh.
“Harus baik? Harus benar? Harus menurut siapa?” Seringkali kata “harus” muncul dari aturan baik dan benar yang diberikan oleh dunia luar. “Lalu kenapa aku merasa harus mengikuti “harus” itu?”
Cinta mulai menjawab, “Karena kamu belum mengenal dan memiliki aku untuk dirimu sendiri, sehingga kamu masih merasa harus meraih aku dari persetujuan dan pengakuan orang lain. Untuk itulah kamu mengikuti segala keharusan dari luar tanpa lagi bertanya ke dalam.”
Ia melanjutkan, “Jika saja kamu menghadirkan aku untuk dirimu sendiri, kamu akan punya lebih banyak keyakinan dan keberanian untuk lebih mendengarkan dan mempercayai panggilan dari dalam Diri Sejatimu sendiri.”
Cinta, ternyata seringkali aku salah ungkapkan dalam bentuk ikatan dan kendali harus, termasuk saat belajar mencintai diri. Sejatinya, cinta justru membuat kita bertumbuh tanpa menghakimi. Cinta memberi kita keberanian untuk melangkah, namun tidak memaki saat kita goyah. Cinta, melepaskan keharusan dan membebaskan kita untuk menjawab panggilan jiwa kita. Karena cinta percaya pada cahaya sejati di dalam diri kita.
Cinta kini bertanya padaku dengan lembut, “Jika segala cinta sudah kau miliki dan tak ada lagi yang menghakimimu untuk apapun yang kau lakukan, hidup seperti apa yang ingin kau jalani?” Belum aku selesai merenung, ia menuntunku lebih dalam lagi, “Dan jika tak ada keharusan, tak ada kata benar salah, panggilan jiwa apa yang ingin kau sambut?”
Aku terdiam, dan membiarkan cinta menuntunku. Mungkin sudah saatnya aku melepas genggamanku pada takut.