Nanti Yang Tak Pernah Sampai
“Nanti”
Satu kata yang membawa harapan bersyarat
“Kalau sudah…”
Kapan bisa merasa bersyukur?
Nanti, kalau semua sudah baik.
Kapan bisa mencintai diri?
Nanti, kalau diri saya sudah sempurna dan layak
Kapan bisa merasa puas?
Nanti, kalau semua sudah cukup.
Kapan bisa main sama anak?
Nanti, kalau sudah ada waktu.
“Nanti” seringkali membuatku melewatkan hal-hal berharga yang ada di “Sekarang”
Di ujung “Nanti” seringkali ada penyesalan menunggu
Sebetulnya,
Semua yang aku pikir hanya ada di “Nanti” dengan sederet “kalau”,
Ternyata selalu ada di “Sekarang”
Saat kesadaran terbuka, maka kata “kalau” perlahan terlepas
Di Sekarang..
Semua sudah baik sehingga bersyukur jadi ringan
Diri ini sudah sempurna dan selalu layak dicintai
Semua sudah cukup sehingga puas jadi lebih dekat
Dan inilah waktu yang ada untuk bermain bersama
Tak perlu lagi menunggu “Nanti”
Ketika mampu mengenali apa yang tersedia di “Sekarang”
Dengan menjalani “Sekarang”, aku akan sampai ke “Nanti” dengan sendirinya
“Nanti” yang lebih penuh dan tanpa penyesalan
Karena semua disadari dan dijalani dengan penuh arti di setiap saat “Sekarang”
Karena “Sekarang” adalah batu bata kecil yang membentuk rumah “Nanti”
Besar kecilnya rumah “Nanti” tergantung dari seberapa banyak batu bata “Sekarang” yang aku kumpulkan dan susun
Terima kasih, untuk semua hadiah dari saat “Sekarang”
Thank you for the beautiful Present..
*Mellow abis dengerin Cats In The Cradle-nya Ugly Kid Joe..