Crash! Boom! Bang!
Mengosongkan satu demi satu tangki emosi yang terpendam bertahun-tahun, mungkin memang bukan hal yang sederhana.
Another part of my letting-go-journey.
Proses melepas sering kali gak terjadi dengan halus..
Benturan di dalam yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya, sangat mungkin keluar dengan benturan yang keras pula. Gue langsung inget lagu Roxette, Crash Boom Bang.. Begitu sepertinya benturan yang gue rasakan kemarin.
Benturan yang udah sampe jadi ledakan.
Kurangnya penerimaan di dalam diri itu yang membuat benturan di dalam terjadi.
Dan begitu terpancar keluar, benturan itu juga akan membuat orang lain sulit untuk menerima sisi diri kita yang itu.
Gue beruntung punya sahabat hidup yang memahami dan menerima benturan-benturan dalam diri gue.
Tetap selalu menemani walaupun benturan itu seringkali tanpa gue sadari mengenai dirinya juga.
Dan perjalanan melepas ini ternyata bukan untuk gue doang, melainkan juga untuk hubungan gue dengan orang-orang yang selalu setia menyediakan dirinya menerima benturan-benturan gue.
Karena setiap kali benturan di dalam terpancar keluar, ada duri tajam tak terlihat yang mengelilingi kita, dan orang yang bersedia menemani dan tidak meninggalkan kita, adalah orang yang paling sering tertusuk. Padahal kita mencintainya dan ingin membahagiakannya.
Kalo lo punya orang-orang seperti sahabat hidup gue ini, bisa jadi dia adalah salah satu alasan penting mengapa kita perlu lebih banyak melepas benturan dalam diri kita.
Alasan utama, tentu untuk diri kita sendiri, agar kita tidak lagi menderita. Karena duri tajam itu sebetulnya lebih banyak menusuk ke dalam diri kita sendiri.
Menderita di sumber bahagia.
Kehausan di telaga yang berlimpah.
Kata Opa David Hawkins..
Sumber kebahagiaan selalu ada di dalam diri, namun benturan-benturan yang kita selalu genggam erat selama ini menghalangi kita untuk sampai ke sana.
Semakin banyak melepas benturan di dalam, akan semakin terasa lembut hidup ini kita rasakan.
Karena hidup terasa keras tidak lain karena refleksi dari benturan-benturan di dalam diri kita sendiri.
Maacih Ary, sahabat hidup gue 

Thank you for always being here, even in my crash boom bang times.. 
