Tentang Saya

Buat gw, salah satu hal yg paling gw syukuri dari hubungan gw dan Ary Agung Wahono saat ini adalah kemampuan membicarakan hal-hal yang sensitif dan gak menyenangkan.

Gw masih inget jaman-jaman dulu, ada banyak area yang masuk ke dalam kategori sensitif dan gak menyenangkan buat gw & Ary. Akhirnya seringkali memilih untuk diem, menyimpan sendiri, menahan, memendam. Intinya udahlah diem aja daripada dibahas malah jadi ribut.

Dan itu bukan cuma gw ke Ary, tapi Ary ke gw jg begitu.

Tapi diem dan menahan juga bukan solusinya. Karena dengan diem dan nahan, itu malah mengakumulasi. Bukan hanya cuma menunda keributan, tapi juga malah bisa memperbesar potensi keributan. 😄

Dan kebayang kalo areanya banyak, jadi ngobrol ini takut, ngobrol itu takut, gak sengaja bilang sesuatu eh sensi jadi ribut, lama-lama males jadinya ngobrol sama pasangan. Kaya maen Minesweeper. Sewaktu-waktu bisa meledak kalo gak ati-ati.

Tapi.. kan tetep aja ketemu saatnya ketika mau gak mau akhirnya sesuatu itu harus dibahas. Nah biasanya karena ada rasa takut dari dua belah pihak, pembahasannya jadi gak enak banget. Yg satu takut merasa dihakimi dan takut dilukai, yang lain merasa takut melukai dan merasa harus memikul tanggung jawab menahan dan menerima. Dan ini gw dan Ary ganti-gantian ada di 2 posisi ini. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang nyamping juga.. Wkwkwk..

Ngobrolnya gak nyaman, emosi menegang dan bermuncratan ke mana-mana. Berhamburan keluar gitu maksudnya.. Emosinya negatif semua lagi dua-duanya. Stressful kalo inget jaman-jaman itu. Pengen kabur tapi mau kabur ke mana, naik apa, sama siapa. Ujung-ujungnya minta ditemenin Ary jugaaa.. 😅 pade bae nong..

Gw lupa perjalanan persisnya gimana sampe gw dan Ary bisa sampe ke titik saat ini, tapi awal momentum hubungan gw dan Ary rasanya mulai dari waktu kami berdua belajar tentang cara kerja pikiran dan psikologi manusia.

Gak sengaja kecemplung ke dunia hipnoterapi, gw dan Ary jadi sama-sama belajar dan mulai bisa menyadari bahwa kami berdua ternyata sama-sama punya banyak luka. Sadar dan paham bahwa ada banyak hal yang dipendam dan ditekan di balik tindakan dan perkataan yang keluar dari kami berdua.

Pengalaman menorehkan luka. Luka menimbulkan emosi/perasaan, perasaan memunculkan pikiran, dan pikiran terproyeksi keluar melalui tindakan dan perkataan.

Dan karena itu kemudian kami jadi mengerti lagi bahwa semua sikap, pikiran dan emosi kami masing-masing sebenernya adalah tentang diri dan luka kami sendiri, bukan tentang pasangan.

Gw bete karena sesuatu misalnya, lebih sering itu sebenarnya karena gw punya masalah dan luka tentang sesuatu itu, bukan karena apa yg Ary lakukan. Begitu juga sebaliknya.

Kami jadi saling memahami lebih dalam kenapa dia begitu, kenapa gw begini. Belajar untuk kurang-kurangi menghakimi dan lebih banyak mendukung dan membantu.

Jadi ketika ada hal yang masuk ke area gak nyaman untuk gw atau Ary, tapi kami tau itu perlu diselesaikan dan diobrolin, kami belajar bekerja sama.
Yg lagi ada di posisi gak nyaman, belajar berani menghadapi dan mengakui lukanya, dan ini memang gak mudah pada awalnya. Malu, merasa rendah, takut disalahin, gak terima, dll.

Nah pasangannya, belajar mendengarkan untuk memahami (bukan sekedar langsung menanggapi), tidak menghakimi, menyediakan telinga dan hati untuk menampung segala luka dan emosi yang keluar. Memberikan cinta tanpa syarat salah satunya ya di saat-saat begini. Bukan cuma sisi terang yang disambut, sisi gelap pun diterima.

“Ini tentang saya. Bukan tentang kamu.” Begitu biasanya kami saling memulai curhatan. Dengan begini pasangan jadi gak merasa disalahkan dan kemudian bersikap defensif. Tapi justru jadi suportif. Bersedia menemani.

“Saya merasa …..” Ini juga saling kami ucapkan. Saya merasa artinya itu perasaan yg memang sedang dirasakan, dan pasangan gak bisa juga intervensi perasaan pasangannya dengan anggapan, “gak semestinya lho kamu merasa begitu.”
Lha namanya juga perasaan.. perasaan itu akan lebih sehat jika dikenali, diakui, diterima, kemudian dilepas, daripada diblock.

“Saya merasa” juga berarti mengakui belum tentu perasaan gw itu benar adanya, dan gak menyerang pasangan, karena sadar bahwa itu perasaan yg dirasakan, tapi belum tentu faktanya begitu. Makanya dikomunikasikan, “Saya merasanya begini, apakah benar kamu begitu?”

Salah satu contoh, gw dulu sering merasa diremehkan, merasa kurang dihargai oleh Ary. Sekali lagi.. merasa. Boleh gak gw merasa itu? Silahkan, itu hak gw. Tapi, kemudian diliat lagi dari sisi Ary, bener gak sih dia emang bermaksud meremehkan gw?

Begitu diobrolin, dikonfirmasi, ternyata Ary sama sekali gak ada pikiran meremehkan atau bermaksud tidak menghargai. Dengan ngobrol, gw jd tau perasaan gw ternyata bukan fakta, dan Ary jd tau jg kenapa gw bawaannya kok ngegas sama omongan atau sikapnya yg menurut dia biasa aja. Dia jadi lebih santai ngadepin gw setelah dia tau bahwa yg bermasalah adalah gw, bukan dia. Yg waras ngalah, yg sehat bantu ngerawat yg sakit.

Kalo gak diobrolin, bisa sensi berkepanjangan dan bisa berlangsung selama usia pernikahan, mungkin.. Dan merembet ke mana-mana..

Balik ke luka tadi, berarti perasaan diremehkan itu datang dari dalam diri gw sendiri. Pertanyaannya, kok bisa? Itu yg kita gali bareng-bareng. Ternyata ya karena gw ada pengalaman yg bikin gw sering merasa diremehkan, dikecilkan, dan itu belum sembuh. Jadi masih nempel dan sakit ketika ada kejadian atau omongan yang menurut pikiran bawah sadar gw nyambung dengan perasaan diremehkan itu. Setiap kesenggol, rasa sakit itu muncul lagi dan lagi. Capek ya?

Dan rata-rata, hampir semua malah, perasaan kita, ya tentang kita. Bukan karena apa yang orang lain lakukan dan katakan. Orang lain hanya memicu apa yang ada di dalam.
Kalau di dalamnya sudah beres, ya tidak ada yg terpicu.

Pengetahuan soal satu hal ini cukup banyak membantu untuk menaikkan kesadaran akan kondisi dalam diri masing2, dan itu ngefek banget untuk membangun komunikasi dua arah yang jelas dan transparan. Enaknya, dengan cara ini bisa sekalian makin banyak luka yang sembuh, dan makin lama area sensi makin sedikit, sampe akhirnya apa aja bisa diobrolin bareng.

Hubungan juga makin deket karena pasangan akan saling berterima kasih. Hubungannya jadi saling menyembuhkan.

Prakteknya memang membutuhkan dua orang yang sama-sama mau belajar dan bertumbuh. Balik lagi, cinta di antara pasangan yang bisa jadi dasar untuk kemauan belajar dan bertumbuh ini.

Hmm.. ada banyak banget ya yg bs dieksplor cuma dari segi komunikasi dengan pasangan aja. Ini satu aja uda panjang banget. Kapan-kapan gw tulis lagi. Hehe..

Download Ebook Human Design Gratis

Mengungkap Warna Sejati Diri

Dapatkan Juga Materi Terbaru Di Sosial Media Kami

Dapatkan jadwal webinar terdekat dan berbagai cerita menarik mengenai self healing, penyembuhan luka batin, mental health, pengembangan diri, dll.

Baca Juga Tulisan Lainnnya

Semoga Bermanfaat Dan Jadi Berkat Untuk Semua ❤️😊