Gelap Dan Terang Adalah Satu

“Ma, Mama jangan bete dong.. Kalo Mama bete, semua bete Ma. Senyum yaa..”

Cerita ini dateng dari seorang teman yang baru menemukan inner childnya yang terpendam sekian lama, dan dia tiba-tiba merasa sedih dan sesak di dada. Namun, dia merasa harus menahan perasaannya karena harus tetap baik-baik saja di depan anak-anaknya. Anaknya mengucapkan kalimat di atas, dan menyadarkan dirinya bahwa ia tidak boleh terlihat sedih di depan anak-anaknya.

Gue sendiri berpendapat bahwa anak-anak perlu juga tahu sisi kita yang bukan sebagai orang tua, tapi sebagai pribadi (human being).

Ini baik untuk mereka, supaya mereka juga belajar mengenali diri mereka sebagai pribadi, terlepas dari identitas atau peran yang mereka pikir harus mereka jalani. Terlepas dari ekspektasi tidak sehat yang menuntut kesempurnaan satu identitas.

Mereka juga belajar untuk mengenali perasaannya alih-alih menahan atau memendamnya. Belajar untuk melepaskan perasaannya dengan sehat.

Gue memulai tulisan ini dengan hubungan anak dan orangtua, karena kebetulan itu yang lagi dateng. Tapi, semua hubungan pada dasarnya perlu bisa saling melihat satu sama lain sebagai pribadi utuh, bukan sekedar sebagai peran atau identitas yang sedang menempel.

Jadi pemimpin, apakah tidak boleh tidak tahu akan suatu hal?
Jadi orangtua, apakah tidak boleh menangis?
Jadi laki-laki, apakah tidak boleh rapuh?
Jadi ibu, apakah tidak boleh lelah?
Jadi guru, apakah tidak boleh bertanya pada muridnya?

Ada begitu banyak conditioning lingkungan yang membuat seseorang merasa dirinya melekat pada identitas tertentu dengan segala aturan baik buruk dan benar salahnya, sehingga cenderung berusaha untuk menjadi sempurna dan menekan yang dianggap salah untuk mempertahankan identitas tersebut. Apalagi jika merasa identitas mereka menentukan nilai diri mereka.

Ketika hanya mau mengambil yang baik dan membuang yang jelek, hal ini membentuk ego, membuat diri semakin terpecah dan terpisah. Pada dasarnya ego adalah keterpisahan dengan Diri Sejati, sehingga semakin besar ego, semakin jauh kita terpisah dari Sang Sumber, dan semakin kita merasa kosong.

Ibarat diri kita adalah satu lingkaran utuh, ada sisi utara dan selatan, atas dan bawah. Namun conditioning lingkungan membuat kita mengkontrakan dan memisahkan, bahwa atas itu baik, bawah itu jelek, sehingga kita ingin membuang yang jelek dan hanya mengambil yang baik. Value diri kita “dinilai” hanya dari kebaikan, dan kita mengamini penilaian dari luar tersebut. Padahal, selayaknya siang dan malam, hanyalah ini dan itu, 2 hal yang berbeda, bukan baik dan buruk. Yang namanya satu hari ya terdiri dari siang dan malam. Kalo pagi sore itu rumah makan padang.. hehe..

Nah, ketika kita terkondisi dalam kotak-kotak benar atau salah, baik atau buruk, maka kita semakin ingin membuang yang dianggap salah itu, dan tanpa sadar sebetulnya kita sedang memecah-mecah keutuhan diri kita. Bukan lagi lingkaran utuh, namun setengah lingkaran jadinya, jika bagian bawah tidak diinginkan dan berusaha dibuang.

Dan saat kemudian kita menjadi setengah lingkaran, kita merasakan kekosongan, karena sejatinya kita adalah satu lingkaran utuh. Mbulet ya? Kita sendiri yang membuang, kita sendiri yang kemudian merasa terpisah dan kosong. Lucunya, kita justru mencari di luar, mencari hal-hal yang bisa mengisi kekosongan yang kita rasakan, mencari hal-hal yang kita harap bisa membuat kita merasa utuh kembali.

Setelah menemukan pemahaman ini, gue mulai belajar untuk pelan-pelan menyadari dan melepaskan diri dari conditioning lingkungan, dari keharusan dan penghakiman diri sendiri. Kembali ke Diri agar bisa mengenali dan menerima segala yang ada di dalam, yang selama ini tertekan oleh penghakiman baik buruk benar salah.

Menyadari bahwa kita bukanlah sekedar identitas yang dipakaikan dunia kepada kita.
Kita adalah Diri kita, dengan berbagai sisi yang membentuk keutuhan diri kita.

We all have Light shining so bright in our Self.
So bright that even when we find all the darkness inside, our Light will shine even brighter.

So, do not fear the darkness.
The more you embrace the darkness, the more your light will shine.

For the dark and the light are what make us a whole.
Embrace them all.. and you are home ❤️

Download Ebook Human Design Gratis

Mengungkap Warna Sejati Diri

Dapatkan Juga Materi Terbaru Di Sosial Media Kami

Dapatkan jadwal webinar terdekat dan berbagai cerita menarik mengenai self healing, penyembuhan luka batin, mental health, pengembangan diri, dll.

Baca Juga Tulisan Lainnnya

Semoga Bermanfaat Dan Jadi Berkat Untuk Semua ❤️😊