Acceptance Heals

Penerimaan itu menyembuhkan. Lalu apa yang membuat gue menderita? Resistance, penolakan. Dan mengapa gue ada penolakan? Karena gue memiliki ekspektasi. Ekspektasi membuat ada standar benar dan salah. Kalau sesuai dengan ekspektasi, maka itu benar dan baik (bagi gue). Tapi kalau tidak sesuai dengan ekspektasi, maka itu salah dan buruk. Dan ketika ada yang salah dan buruk, gue tentu akan cenderung menolak. Seperti kata para bijak, setiap hal adalah netral, ekspektasilah yang memberi muatan positif dan negatif pada hal tersebut.

Buddha bilang bahwa menderita karena melekat, bahagia karena melepas. Menderita karena melekat pada ekspektasi, bahagia karena melepas ekspektasi. Ketika ekspektasi dilepas, maka tidak ada standar benar salah yang harus terpenuhi. Ketika tidak ada standar benar salah, tidak ada yang perlu ditolak, semua diterima sebagaimana adanya.

Penerimaan menyembuhkan, karena pada dasarnya, kita ini satu, utuh. Ibarat bulatan bola dunia, karena bulat, maka ada kutub utara dan kutub selatan. Yang di atas biasa dikonotasikan kutub positif, yang di bawah kutub negatif. Dalam keadaan utuh, keduanya adalah bagian yang tidak terpisahkan. Kalau cuma mau mengambil yang atas, maka bulatan itu terpaksa dibelah menjadi setengah lingkaran. Saat suatu keutuhan dibelah, maka ada rasa sakit dan keterpisahan. Ada rasa kosong dan hampa saat yang separuh “dihilangkan” .

Dalam hidup, ada kecenderungan untuk hanya mau menerima yang bagus, dan menolak yang jelek. Sifat buruk ditolak, dipendam, disingkirkan, diabaikan. Padahal, yin dan yang, positif dan negatif, siang dan malam, baik dan buruk, adalah kesatuan. Hanya mau menerima yang satu, dan menolak yang lain, adalah sumber penderitaan diri. Diri yang utuh menjadi terpisah-pisah. Dari sini, muncul rasa kekosongan. Dan kita terus mencari sesuatu untuk memenuhi rasa kosong tersebut. Ironisnya, ternyata yang bisa memenuhi keutuhan itu kembali adalah hal-hal yang berusaha kita hapus. Lalu, sampai kapan utuh itu datang?

Entah kenapa gue sedih saat menulis hal ini. Gue mengingat hal-hal dari diri gue yang gak gue sukai. Hal-hal yang ingin gue buang, gue ubah, gue hilangkan. Padahal hal-hal tersebut adalah bagian dari diri gue yang utuh. Dan gue tau rasanya tidak diinginkan, rasanya dianggap tidak cukup baik, rasanya tidak disukai dan tidak diharapkan. Ternyata rasa yang gue pikir gue dapet dari perlakuan orang lain terhadap gue, sebenarnya adalah rasa yang gue timbulkan sendiri terhadap diri gue. Berapa banyak hal dari diri yang gue tolak dan ingin gue singkirkan karena gak sesuai dengan ekspektasi gue. Ekspektasi yang didorong kondisi-kondisi dari luar.

Dear Usi, maafin gue ya. Maaf untuk semua ekspektasi, maaf untuk semua yang gue pendam dan gue tekan, maaf untuk semua yang ingin gue buang. Acceptance heals. Maka, gue belajar untuk menerima segala sesuatu tentang diri gue, atas bawah kiri kanan depan belakang, semua adalah bagian diri gue yang membuat gue utuh.

Memutuskan untuk memulai penerimaan terhadap diri adalah perjalanan yang awalnya terasa gelap dan menakutkan buat gue. Tapi, lagi-lagi, penerimaan memberikan secercah cahaya yang sedikit demi sedikit menerangi jalan gelap itu. Cahaya penerimaan membuat gue lebih bisa melihat segala yang menakutkan dengan lebih jelas. Bayangan-bayangan yang gue pikir adalah monster buruk yang menghantui untuk menyiksa gue, ternyata mereka hanyalah pembawa pesan yang sangat gigih. Mereka terus mengikuti gue karena ada pesan yang belum gue baca, belum gue lihat, dan belum gue sadari. Cahaya penerimaan membantu gue untuk mulai belajar melihat, menyadari dan membaca pesan-pesan yang mereka bawa. Pesan-pesan yang ternyata adalah untuk kepenuhan dan kebahagiaan diri gue.

Gue belajar untuk menerima ketakutan-ketakutan yang sekian lama gue tekan di dalam.

Takut kanker, entah kenapa gue begitu takut sama penyakit satu ini. Takut sakitnya, takut kelihatan jelek, takut mati. Gue belajar menyadari dan menerima ketakutan ini. Belajar memaafkan kejadian dan orang-orang yang membuat gue gak nyaman. Belajar merawat tubuh gue dengan lebih baik. Belajar mensyukuri kesehatan semua bagian tubuh yang gue miliki.

Takut tidak disukai orang, terutama orang yang posisinya adalah guru buat gue.

Sepertinya rasa takut ini justru karena gue punya ekspektasi untuk disukai guru dan dianggap istimewa, karena gue merasa diri gue pintar. Hehe.. Lucu ya, ekspektasi ini membuat gue merasa harus diistimewakan, dan malah membuat gue merasa takut ditolak dan diabaikan. Setelah menyadari ini, gue belajar untuk melepas kebutuhan dianggap istimewa, kebutuhan mendapatkan validasi orang lain untuk membuat gue merasa mampu.

Dulu, gue takut ditinggalkan oleh orang yang gue sayangi, oleh pasangan terutama. Takut gue tidak cukup baik dan takut dikalahkan oleh orang lain yang mungkin bisa menjadi lebih baik daripada gue. Gue belajar menerima kerapuhan diri gue, belajar mencintai diri, dan belajar memisahkan kejadian yang menimpa orang lain dari diri gue. Nyokap gue mungkin dulu mengalami itu sebagai jalan hidupnya untuk mendapatkan pesan untuk kebahagiaan dirinya. Tapi, bukan berarti gue akan mengalami atau harus mengalami hal yang sama, kan? Gue bersimpati dan berempati terhadap nyokap, tapi bukan berarti gue harus menyimpan emosi dan perasaannya nyokap gue di dalam diri gue. Di saat yang sama, gue belajar membangun hubungan yang lebih sehat dengan pasangan. Belajar menjadi gue yang bahagia karena gue sendiri, bukan gue yang harus dibahagiakan oleh pasangan gue. Rasa takut ini dulu adalah yang terbesar dalam diri gue, dan gue berterima kasih karena gue belajar banyak dari pesan yang dia bawa dan pertumbuhan diri gue saat ini adalah karena pelajaran-pelajaran yang ia bawakan.

Yang sudah gue sadari masih belum semuanya mampu gue rangkul. Paling enggak, gue mulai berani berdiri di dekat mereka dan mendengarkan apa yang mereka bawa. Mulai bisa berterima kasih untuk kehadiran mereka, walaupun masih takut. Dan masih banyak rasa-rasa terpendam di dalam diri gue tentunya. Ketakutan, kekhawatiran, rasa rendah diri dan sombong yang bergantian muncul, kemarahan, kesedihan, kenakalan, dan masih banyak sisi diri gue yang masih perlu gue terangi dengan cahaya penerimaan lebih terang. Sampai nanti gue bisa melihat rupa mereka dengan lebih jelas, menghadapi mereka, dan bahkan memeluk mereka. Menyatu kembali, utuh kembali.

Download Ebook Human Design Gratis

Mengungkap Warna Sejati Diri

Dapatkan Juga Materi Terbaru Di Sosial Media Kami

Dapatkan jadwal webinar terdekat dan berbagai cerita menarik mengenai self healing, penyembuhan luka batin, mental health, pengembangan diri, dll.

Baca Juga Tulisan Lainnnya

Semoga Bermanfaat Dan Jadi Berkat Untuk Semua ❤️😊